Selasa, 24 Februari 2009

Cerpen : "Sakit Itu Kini Hilang"

Aku dilahirkan 10 tahun yang lalu, orang tuaku memberiku nama “Ali Habibie”. Mereka mempunyai harapan agar aku menjadi anak yang sehat, cerdas, dan terkenal seperti Pak Habibie mantan Presiden RI yang jago pesawat. Namun apa yang terjadi justru aku terlahir sebaliknya, aku ditakdirkan menjadi anak yang cacat. Sewaktu aku lahir tak terlihat kekuranganku, tapi setelah aku dibawa pulang ke rumah orang tuaku, mereka baru menyadari kalau aku tak punya lubang anus. Aku langsung dibawa ke rumah sakit dan dokter memberiku lubang anus buatan di perut sebelah kiri, hingga waktu yang ditentukan, aku dibuatkan lubang anus yang sesungguhnya.

Dari awal mungkin aku sudah mengecewakan orang tuaku, karena aku terlahir jauh dari harapan, apalagi setelah malalui pemeriksaan untuk persiapan operasi, diketahui kalau jantungku juga bocor, sama kondisinya seperti kakakku perempuan satu-satunya. Namun kakakku lebih beruntung karena dia sudah sembuh dari sakitnya setelah dioperasi.

Untuk aku, rasanya tidak mungkin diberikan pengobatan seperti itu. Karena penyakitku terlalu banyak, selain jantung bocor dan melihat keuangan keluarga sudah tidak mungkin, karena sudah terkuras habis oleh pengobatan kakakku, dan juga ayahku sudah pensiun dari pekerjaannya.

Pada usia 7 tahun aku baru bisa berjalan, tapi mulutku hingga saat ini tak pernah bisa berucap, kecuali kata “Ma..” dengan nada sumbang, aku ingin berteriak jika aku ingin sesuatu dan merasakan sesuatu, entah itu rasa sakit, kecewa, marah, ataupun bosan. Aku betul-betul tersiksa. Aku ingin seperti anak-anak sebayaku yang bisa bermain sepak bola, berlari-lari, bermain layang-layang, dll. Tapi apa daya untuk berjalan dan bergerak sedikit lebih cepat pun rasanya sakit sekali, kakiku cepat lelah, nafasku tersengal dan bibir, lidah, dan juga kuku tangan dan kakiku membiru, rasanya sesak sekali. Sebagai pelampiasan aku sering marah. Aku berulah tak terkendali, apa saja yang ada disekitarku sering menjadi sasaran kemarahanku, entah itu piring, gelas, atau apa saja yang ada aku lempar. Kadang air kencing sendiri pun aku buat mainan, hingga membuat ibuku marah. Tak jarang aku mendapat caciannya, kata-kata yang tidak pantas diucapkan pun terlontar dari mulut ibuku. Mungkin ibuku sudah tidak tahan lagi dengan cobaan hidupnya bertahun-tahun harus mengurus anak-anak yang tidak “sempurna”.

Waktu terus berjalan, kondisiku tidak ada perbaikan malah semakin memburuk. Walaupun ini suatu keajaiban usiaku bisa mencapai sebanyak ini, karena menurut prediksi dokter, kalau usiaku tidak lebih dari 7 tahun. Tapi mungkin Allah mempunyai kehendak lain.

Di suatu hari badanku rasanya lemah sekali, aku tak bisa duduk-duduk seperti biasa, dan ayahku membawaku berjalan-jalan, tubuhku yang sudah tidak kecil lagi ada dalam pangkuannya, itu yang sering beliau kerjakan untuk menghilangkan kejenuhanku, dan saat inilah yang selalu aku tunggu, melihat anak-anak sebayaku yang sibuk bermain, para tetanggaku yang menyapaku dengan ramah, dan tak jarang aku mendapat oleh-oleh berupa makanan atau mainan untuk ku bawa pulang, karena mereka merasa prihatin dengan keadaanku. Tapi semua itu tidak dapat membuatku ceria, tak dapat membuat aku bisa tersenyum , rasanya semua hambar sehingga aku kembali pulang ke rumah, rasanya aku ingin tidur, tidur di pelukan ibuku.

Aku pandangi wajah ibuku, tampak guratan lelah, tapi dia tersenyum melihat wajahku yang pucat. Aku tahu ibu cemas dengan keadaanku, ayahku tampak tua, rambutnya sebagian memutih agak tipis, dan kakakku dia gadis yang cantik, usianya 24 tahun, tapi daya pikirannya seperti anak-anak yang masih kecil, tak tampak sosok kedewasaannya, walaupun sudah keluar dari SLB tingkat SMU.

Oh Tuhan, betapa berat beban keluarga ini, rasanya tak pernah ada harapan untuk masa depan. Badanku semakin melemah, aku lihat awan putih melayang di udara, tubuhku terasa ringan, ringan sekali. Tak ada lagi rasa sesak di dada, rasa sakit di seluruh tubuhku terasa hilang, kulihat pemandangan yang indah, udara begitu harum, langkah kakiku terasa ringan, kakiku dapat melangkah, perlahan lebih cepat dan berlari. Oh Tuhan, aku dapat berlari, aku sembuh dari sakitku, aku bisa berbicara, ku sentuh tangan ibuku, tapi dia tak merespon, malah menangis, ayahku, kakakku semua menangis, dan kenapa harus menangisi kesembuhanku? Bukankan ini yang mereka harapkan? Aku sekarang sudah sembuh, tak ada lagi sesak, tak ada lagi rasa sakit.

Ayah, ibu, dan kakak, ku tunggu kau di Surga.

Tidak ada komentar: