Rabu, 18 Maret 2009
Jejak Tulisan Kunyit
Edi menyusuri jalanan menuju rumahnya. Di sebuah warung makan di pinggir jalan, Edi melihat sebuah mobil. Walaupun kaca mobil itu tertutup, Edi bisa melihat seorang anak perempuan di dalamnya. Anak itu duduk sendirian di kursi belakang. Ia tampak gelisah, bahkan menangis.
Anak perempuan itu lalu tampak menutup wajahnya dengan sapu tangan. Secara tak sadar, Edi terus memperhatikan anak itu. Anak itu juga memperhatikan Edi. Ia seperti ingin berbicara sesuatu ke Edi. Akan tetapi, tiba-tiba muncul dua lelaki dewasa dari warung makan. Sepertinya mereka baru selesai makan.
Dua laki-laki dewasa itu masuk ke mobil itu. Yang satu menyetir, yang satunya lagi duduk di belakang, di sebelah anak itu. Mobil itu kemudian melaju meninggalkan tempat itu.
Edi baru sadar, ternyata ada sehelai saputangan tergeletak di jalan. Di sekitar tempat mobil tadi parkir. Sapu tangan itu berwarna kuning dengan motif bunga. Tampak ada bordir nama Ariessa. Pasti sapu tangan ini milik anak tadi, gumam Edi dalam hati.
“Kalau bertemu anak perempuan itu lagi, akan aku kembalikan,” pikir Edi. Keesokan harinya, disekolah, Edi mendengar kabar tentang penculikan. Edi langsung teringat pada anak yang kemarin ia lihat. Ia semakin yakin kalau yang diculik adalah anak itu. Setelah ia melihat foto selebaran di papan pengumuman.
Wajah anak di foto itu, sama persis dengan yang dilihat Edi. Nama anak itu Ariessa. Sama seperti bordiran di saputangan yang ditemukan Edi.
“Duh sayang aku lupa mencatat nomor mobil itu,” sesal Edi.
“Mobil siapa, Di?” tanya Sohib penasaran.
Edi segera menceritakan pengalamannya kemarin.
“Oya, aku menemukan sesuatu di tempat kejadian itu!” kata Edi lagi.
Sepulang sekolah, Edi mengajak Sohib ke rumahnya. Ia mengeluarkan saputangan milik Ariessa. “Ini dia yang aku temukan.”
Sohib mengamati saputangan itu. Ia lalu mengendusnya.
“Kok, bau kunyit, ya? Sepertinya, setelah makan, ia mengusap mulutnya dengan saputangan ini.”
Edi lalu berpikir, adakah petunjuk yang berhubungan dengan kunyit. Setelah berpikir beberapa saat, Edi masuk ke kamar mandi. Dibasuhnya sapu tangan itu dengan air sabun. Tiba-tiba muncul deretan huruf berwarna merah membentuk tulisan “Semut E11.”
“Semut?” gumam Edi dan Sohib bingung.
Beberapa saat kemudian, Sohib berkata, “kalau tidak salah, Semut itu adalah kompleks yang ada di dekat kelurahan. Semesta Mutiara, sering disingkat menjadi Semut.”
Setelah makan siang, mereka sepakat pergi ke alamat yang tertera di saputangan, untuk memperoleh keterangan lebih lanjut. Tak berapa lama mereka menemukan alamat tersebut dengan mudah, karena rumah yang dituju adalah salah satu rumah yang paling besar di daerah komplek tersebut. Tampak rumah itu terkesan mewah, selain dilengkapi dengan satpam, juga tampak berderet mobil mewah terparkir dihalaman samping rumah tersebut yang merangkap gerasi.
Edi dan Sohib menghampiri pagar yang tertutup rapat. Seorang satpam datang menghampiri dan bertanya apa keperluannya. Edi mengeluarkan saputangan basah dari sebuah kantong plastik dan apakah benar saputangan itu ada kaitannya dengan rumah tersebut. Satpam pun tampak kaget dan mengiyakan bahwa saputangan itu milik putri majikannya. Dengan tergesa dia membukakan pintu pagar dan mempersilahkan Edi dan Sohib untuk menemui majikannya.
Seorang lelaki tua duduk dihadapan mereka, setelah beliau mempersilahkan mereka duduk. Tampak raut wajahnya memancarkan kebingungan.
“Kalian menemukan saputangan ini di mana?” tanyanya sambil membentangkan saputangan tersebut diatas meja dan ngelus tulisan Ariessa. Tampak jarinya bergetar menahan sedih dan cemas.
“Saya menemukan saputangan itu tergeletak di jalan, di tempat parkir warung makan di pinggir jalan,” Kata Edi. Lalu Edi bercerita tentang kejadian kemarin siang yang membuatnya curiga. Lelaki tersebut mengangguk-angguka kepalanya mendengar cerita Edi. “Jadi, kau tentu melihat dengan jelas wajah 2 orang laki-laki tersebut?” Oh, siapa namamu nak? “Lanjutnya, maafkan saya, saya belum mengenalkan nama saya, nama saya Edi dan teman saya Sohib, kalau bapak siapa? Nama saya Rahmat Abidin, saya ayah Ariessa, sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.”
Pak Rahmat menceritakan kejadian kemarin bahwa anaknya yaitu Ariessa memaksa ingin ikut ke pasar dengan pembantuny, padahal Ibunya sudah melarangnya karena dia agak kurang enak badan. Tapi dasar Ariessa memang anaknya sedikit manja, maklum anak satu-satunya, apapun keinginannya selalu dituruti. Ariessa baru berusia 5 tahun, dia bersekolah di TK dekat rumahnya, tetapi dia anak yang cerdas diusia anak sedini itu, dia sudah dapat membaca dan menulis. Menurut cerita pembantunya, ketika itu di dalam pasar lebih ramai dari biasanya, akibatnya Ariessa hilang terlepas dari pegangannya. Pembantunya sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukannya, sehingga akhirnya Pak Rahmat mendapat telepon dari orang tidak di kenal yang mengatakan bahwa mereka telah menculik anaknya dan meminta tebusan seratus juta rupiah.
Edi dan Sohib mengusulkan kepada Pak Rahmat untuk lapor ke polisi dan mengabaikan ancaman para penculik untuk tidak melapor pada polisi. Dengan agak ragu akhirnya Pak Rahmat menyetujui usul Edi dan Sohib, memang betul sih, untuk apa menuruti keinginan para penculik yang ingin diketahui keberadaannya,
Sesampainya di kantor polisi, Pak Rahmat, Edi, dan Sohib melaporkan penculikan tersebut. Pak polisi mencatat semua keterangan yang diberikan. Tak diduga Pak Rahmat mendapat telepon dari para penculik lewat handphonenya, mereka menyuruh Pak Rahmat menyediakan uang tebusan yang harus disimpan di dalam bungkusan kantong plastik warna hitam dan menyimpannya di sudut pasar di sebuah tong sampah. Pak polisi mencata semua percakapan para penculik itu dan mereka akan membuat jebakan untuk para penculik tersebut dan merencanakan penyelamatan Ariessa.
Hingga waktu yang ditentukan, Pak Rahmat menyediakan uang yang diminta dan menempatkannya ditempat yang telah ditentukan, tanpa menemui kesulitan yang berarti, polisi berhasil meringkus para penculik tersebut dan menyelamatkan Ariessa. Memang selama ini para penculik tersebut sudah menjadi target pencarian polisi, karena tidak lain dan tidak bukan bahwa mereka adalah para preman pasar yang sering membuat onar.
Setelah Pak Rahmat, Edi, dan Sohib serta Ariessa sampai dirumah, Ariessa bercerita bahwa ketika dia terlepas dari pegangan pembantunya, dia dibawa oleh orang-orang itu. Ariessa berusaha memegang tas belanja pembantunya, tapi yang terpegang malah plastik bungkusan bumbu dapur, ketika dia terkunci di dalam mobil dia berusaha mencari pertolongan, dia teringat dengan saputangannya yang kebetulan waktu itu dia bawa, karena agak sedikit flu, dia tulisi dengan potongan kunyit, karena tidak ada ballpoint dan dia menjatuhkannya sewaktu ada kesempatan. Memang saat itu dia sangat mengharapkan Edi yang ada diluar mobil ketika memandanginya dengan penuh rasa ingin tahu.
Selasa, 24 Februari 2009
Cerpen : "Sakit Itu Kini Hilang"
Dari awal mungkin aku sudah mengecewakan orang tuaku, karena aku terlahir jauh dari harapan, apalagi setelah malalui pemeriksaan untuk persiapan operasi, diketahui kalau jantungku juga bocor, sama kondisinya seperti kakakku perempuan satu-satunya. Namun kakakku lebih beruntung karena dia sudah sembuh dari sakitnya setelah dioperasi.
Untuk aku, rasanya tidak mungkin diberikan pengobatan seperti itu. Karena penyakitku terlalu banyak, selain jantung bocor dan melihat keuangan keluarga sudah tidak mungkin, karena sudah terkuras habis oleh pengobatan kakakku, dan juga ayahku sudah pensiun dari pekerjaannya.
Pada usia 7 tahun aku baru bisa berjalan, tapi mulutku hingga saat ini tak pernah bisa berucap, kecuali kata “Ma..” dengan nada sumbang, aku ingin berteriak jika aku ingin sesuatu dan merasakan sesuatu, entah itu rasa sakit, kecewa, marah, ataupun bosan. Aku betul-betul tersiksa. Aku ingin seperti anak-anak sebayaku yang bisa bermain sepak bola, berlari-lari, bermain layang-layang, dll. Tapi apa daya untuk berjalan dan bergerak sedikit lebih cepat pun rasanya sakit sekali, kakiku cepat lelah, nafasku tersengal dan bibir, lidah, dan juga kuku tangan dan kakiku membiru, rasanya sesak sekali. Sebagai pelampiasan aku sering marah. Aku berulah tak terkendali, apa saja yang ada disekitarku sering menjadi sasaran kemarahanku, entah itu piring, gelas, atau apa saja yang ada aku lempar. Kadang air kencing sendiri pun aku buat mainan, hingga membuat ibuku marah. Tak jarang aku mendapat caciannya, kata-kata yang tidak pantas diucapkan pun terlontar dari mulut ibuku. Mungkin ibuku sudah tidak tahan lagi dengan cobaan hidupnya bertahun-tahun harus mengurus anak-anak yang tidak “sempurna”.
Waktu terus berjalan, kondisiku tidak ada perbaikan malah semakin memburuk. Walaupun ini suatu keajaiban usiaku bisa mencapai sebanyak ini, karena menurut prediksi dokter, kalau usiaku tidak lebih dari 7 tahun. Tapi mungkin Allah mempunyai kehendak lain.
Di suatu hari badanku rasanya lemah sekali, aku tak bisa duduk-duduk seperti biasa, dan ayahku membawaku berjalan-jalan, tubuhku yang sudah tidak kecil lagi ada dalam pangkuannya, itu yang sering beliau kerjakan untuk menghilangkan kejenuhanku, dan saat inilah yang selalu aku tunggu, melihat anak-anak sebayaku yang sibuk bermain, para tetanggaku yang menyapaku dengan ramah, dan tak jarang aku mendapat oleh-oleh berupa makanan atau mainan untuk ku bawa pulang, karena mereka merasa prihatin dengan keadaanku. Tapi semua itu tidak dapat membuatku ceria, tak dapat membuat aku bisa tersenyum , rasanya semua hambar sehingga aku kembali pulang ke rumah, rasanya aku ingin tidur, tidur di pelukan ibuku.
Aku pandangi wajah ibuku, tampak guratan lelah, tapi dia tersenyum melihat wajahku yang pucat. Aku tahu ibu cemas dengan keadaanku, ayahku tampak tua, rambutnya sebagian memutih agak tipis, dan kakakku dia gadis yang cantik, usianya 24 tahun, tapi daya pikirannya seperti anak-anak yang masih kecil, tak tampak sosok kedewasaannya, walaupun sudah keluar dari SLB tingkat SMU.
Oh Tuhan, betapa berat beban keluarga ini, rasanya tak pernah ada harapan untuk masa depan. Badanku semakin melemah, aku lihat awan putih melayang di udara, tubuhku terasa ringan, ringan sekali. Tak ada lagi rasa sesak di dada, rasa sakit di seluruh tubuhku terasa hilang, kulihat pemandangan yang indah, udara begitu harum, langkah kakiku terasa ringan, kakiku dapat melangkah, perlahan lebih cepat dan berlari. Oh Tuhan, aku dapat berlari, aku sembuh dari sakitku, aku bisa berbicara, ku sentuh tangan ibuku, tapi dia tak merespon, malah menangis, ayahku, kakakku semua menangis, dan kenapa harus menangisi kesembuhanku? Bukankan ini yang mereka harapkan? Aku sekarang sudah sembuh, tak ada lagi sesak, tak ada lagi rasa sakit.
Ayah, ibu, dan kakak, ku tunggu kau di Surga.
Senin, 02 Februari 2009
resensi buku fiksi
Judul Buku : 5 CM
Penulis : Donny Dhirgantoro
Penerbit : PT.Grasindo
Tahun terbit : November 2007
Tebal Buku : 381 halaman
Buku 5cm ini menceritakan tentang persahabatan lima orang anak manusia yang bernama Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Dimana mereka memiliki obsesi dan impian masing-masing. Arial adalah sosok yang paling ganteng diantara mereka, berbadan tinggi besar. Arial selalu tampak rapi dan sporty. Riani adalah sosok wanita berkacamata, cantik, dan cerdas. Ia mempunyai cita-cita bekerja di salah satu stasiun TV. Zafran seorang picisan yang berbadan kurus, anak band, orang yang apa adanya dan kocak. Ian memiliki postur tubuh yang tidak ideal, penggila bola, dan penggemar Happy Salma. Yang terakhir adalah Genta. Genta selalu dianggap sebagai “the leader” oleh teman-temannya, bebadan agak besar dengan rambut agak lurus berjambul, berkacamata, aktivis kampus, dan teman yang easy going.
Lima sahabat ini telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Suatu ketika mereka jenuh akan aktivitas yang selalu mereka lakukan bersama. Terbesit ide untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan. Ide tersebut pun disepakati. Selama tiga bulan berpisah itulah terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya. Pertemuan setelah tiga bulan yang penuh dengan rasa kangen akhirnya terjadi dan dirayakan dengan sebuah perjalanan. Dalam perjalanan tersebut mereka menemukan arti manusia sesungguhnya.
Perubahannya itu mulai dari pendidikan, karir, idealisme, dan tentunya love life. Semuanya terkuak dalam sebuah perjalanan ‘reuni’ mereka mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Dan di sanalah cerita bergulir, bukan hanya seonggok daging yang dapat berbicara, berjalan, dan punya nama. Mereka pun pada akhirnya dapat menggapai cita-cita yang mereka impikan seajak dulu.
Setengah dari buku 5 cm. bercerita tentang keseharian lima sahabat ini, dari sifat-sifat mereka yang berbeda satu dengan yang lain sampai dengan perilaku dan aktifitas mereka yang penuh canda tawa, diselingi cerita tentang permasalahan antar-sahabat. Setengahnya lagi, buku ini menuliskan petualangan kelima sahabat dalam mendaki gunung Semeru.
Kelebihan buku ini adalah ceritanya yang menarik, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, dan alur cerita yang tidak membosankan sehingga pembaca ingin membaca buku ini hingga halaman terakhir. Pesan moral yang disampaikan pun sangat baik sehingga memotivasi pembaca agar bisa mengejar impian mereka dan membuat jadi nyata.
”…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kamu. Dan…sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa…percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu”
Buku “5cm” karya Dony Dhirgantoro dengan sampul hitam legam. Di sampul depannya ada beberapa tulisan yang fontnya juga hitam dan di bagian tengah sampul depannya ada juga tulisan “5cm” dengan font yang agak besar berwarna putih. justru yang tampilannya sok misterius kayak gini ini biasanya isinya ga jelas tetapi setelah saya baca ternyata, Buku 5cm mempunyai karakter yang cukup kuat, penuh dialog-dialog yang filosofis, dan berisi kisah-kisah yang inspirasional, dan novel ini sebenarnya cukup bagus, idenya menarik, tentang persahabatan. Penulisnya sendiri sepertinya punya pengetahuan yang luas tentang lirik lagu, film, artis-artis Hollywood, sampe ke filsafat-filasafat Yunani kuno, dan orang terkenal lainnya (Plato, Socrates, Einstein dll), dunia kerja, politik (walaupun sedikit), dan juga humanisme.
Kehebatan penulis terlihat sekali saat menggambarkan dengan detail perjalanan dari Jakarta (stasiun Senen) sampai ke atas puncak Mahameru. Pembaca bagaikan berada di sana, merasakan dinginnya Ranu Pane, indahnya Ranu Kumbolo, mistisnya Kalimati, dan manakjubkannya puncak Mahameru.
Sekedar saran, untuk para mahasiswa, mantan mahasiswa dan juga calon mahasiswa baik yang ber-demo karena mengusung cita-cita mulia, maupun yang ber-demo karena ingin masuk TV dan dianggap keren karena bisa ekstrem melawan pemerintah, novel ini mungkin bisa dijadikan bacaan di kala senggang ketika kalian sedang tidak sibuk ber-demo. Walaupun agak kocak, tapi sisi tidak kocaknya bisa menyumbang sedikit inspirasi loh,,.
resensi
Buku : SEMIOTIKA KOMUNIKASI VISUAL
Penulis : Sumbo Tinarbuko
Penerbit : Jalasutra 2008, Yogyakarta
Tebal Buku : 118 halaman
Sumbo Tinarbuko penulis buku ini, selain untuk isteri dan kedua anaknya Dhanie, Angger dan Rayi, dipersembahkan juga untuk Yasraf Amir Piliang “guru bangsa” dan “teman sejati” yang membuat sang pengarang terbangun dari tidurnya yang panjang demi mengemban tugas sosial untuk memelihara, mencatat dan mengelola tanda serta makna yang terkandung dalam desain komunikasi visual. Pak Yasraf, Guru Posmoderen dan Semiotika dalam desain dan kebudayaan yang sangat produktif ini memberikan kata pengantar yang selalu menarik. Menurut Yasraf:
“sebagai sebuah upaya interpretasi, Sumbo di sini sedang menawarkan sebuah ‘kebenaran’ tentang semiotika komunikasi visual, di samping ‘kebenaran-kebenaran lain’ (the other of truth) yang ditawarkan oleh para penulis lain, dengan argumen, nalar dan sistematika yang dikembangkannya masing-masing. Dalam hal ini apa yang ditawarkan Sumbo adalah sebuah ‘kebenaran relatif di hadapan kebenaran-kebenaran lainnya, bukan kebenaran tunggal” (hlm IX).
Polysemi atau banyak makna, memang adalah salah satu esensi semiotika sebagai ilmu untuk menafsir tanda. Apabila penafsiran tanda dipersempit menjadi sebuah penafsiran tunggal yang otoriter, maka itu adalah sebuah pertanda akan akhir dari tanda dan ilmu tanda. Sebaliknya yang muncul hanyalah propaganda dan kekerasan simbolik yang pernah kita rasakan selama tiga dasawarsa lebih dalam represi rezim Orde Baru.
Buku Semiotika Komunikasi Visual (SKV) terdiri dari lima bab (termasuk pendahuluan dan penutup) sehingga cukup ringkas dan tidak bertele-tele untuk dibaca. Bab pertama pendahuluan, bab kedua membahas teori Semiotika, bab ketiga teori Desain Komunikasi Visual, bab keempat berupa analisis tanda dan makna karya Desain Komunikasi Visual (DKV), dan penutup pada bab kelima.
Pada bab Pendahuluan pengarang secara komprehensif menjelaskan beberapa definisi tentang DKV yang diungkapkan oleh beberapa akademisi desainer, seperti misalnya: Widagdo, AD Pirous, Umar Hadi, T. Sutanto, dan lain sebagainya. DKV merupakan perpanjangan tangan dari Desain grafis plus (plus desain iklan dan desain multimedia). DKV menurut Pirous, merupakan bahasa yang bertugas membawa pesan dari satu pihak kepada pihak lain. Sebagai bahasa, efektivitas penyampaian pesan menjadi pemikiran utama sehingga seorang desainer harus tahu betul seluk beluk pesan yang ingin disampaikan. DKV akan sangat berkesan bila pesan yang disampaikan bersifat unik dan mudah dibedakan dari pesan di sekitarnya.
Bab dua membahas tentang Semiotika, ilmu tentang tanda dan pemahaman berbagai istilah yang digunakan dalam Semiotika. Karena DKV pada dasarnya adalah sebuah bahasa (visual) maka penggunaan Semiotika menjadi penting untuk memahami secara kritis sebuah desain. Dalam buku ini Sumbo menggunakan teori Peirce untuk membahas ikon, indeks, dan simbol, Barthes (untuk memahami kode-kode) , dan Saussure untuk melihat makna denotatif dan konotatif. Selain juga Sumbo menggunakan cara analisis semiotik yang digunakan oleh Judith Williamson dalam membahas iklan. Semiotika sendiri sebagai ilmu tentang tanda, pada dasarnya tidaklah mudah untuk dipahami. Begitu banyak istilah dan pengertian yang digunakan oleh berbagai ahli Semiotik, sehingga pembaca harus melambatkan laju perjalanannya dalam membaca bab dua ini.
Pada bab tiga, bab yang paling penting dibahas, berbagai iklan layanan masyarakat (ILM), desain grafis untuk t-shirt dari perusahaan DAGADU, rambu lalulintas pariwisata Jogya, serta logo event 50 tahun Semen Gresik.
Pemilihan obyek obyek desain yang berjumlah belasan ini tampaknya sengaja dipilih untuk menjelaskan melalui contoh bagaimana menganalisis tanda dengan metode Semiotik. Keragaman media desain yang dipilih juga menunjukkan bahwa semiotik mampu digunakan untuk menganalisis berbagai jenis media dalam desain grafis atau sekarang disebut DKV.
Manfaat mempelajari Semiotik sesungguhnya tidak saja sebagai pisau bedah dalam kritik desain, namun juga membantu desainer grafis agar lebih peka dalam memahami konteks sosial budaya dalam setiap proses perancangan grafis. Semiotik, atau ilmu tanda ini sendiri sebenarnya bukan berasal dari ranah desain atau seni rupa tetapi berasal dari ilmu humanioral, khususnya sastra dan filsafat dengan dua tokoh utamanya Ferdinand du Saussure dan Charles S. Peirce. Dalam dunia penelitian akademik, Semiotik seringkali diragukan keilmiahannya mengingat ilmu ini memusatkan diri pada urusan tafsir-menafsir. Menafsirkan suatu tanda seringkali dicurigai melulu urusan subyektif dari si penafsir sehingga tidak pernah punya tolok ukur yang eksak. Namun sebaliknya, menurut para pengguna Semiotik, keunggulan ilmu tanda ini justeru karena mampu menafsir atau membongkar selubung ideologi dan “virus akal-budi” yang disembunyikan dalam pesan-pesan visual secara tersamar tanpa dapat dilacak oleh ilmu-ilmu sains yang eksak dan kuantitatif. Misalnya saja, bagaimana membongkar adanya “virus” diskriminasi jender dalam pesan yang disampaikan melalui iklan-iklan di media massa.
Sumbo, kandidat doktor UGM, menulis cukup komprehensif dengan wawasan yang cukup lengkap, serta mengemas dengan cara sederhana sehingga penting untuk dibaca oleh mereka yang ingin terus memperdalam “ilmu bedah” desain grafis atau desain komunikasi visual. Memang ada beberapa catatan misalnya, tampilan desain-desain yang diteliti tidak prima akibat teknik cetaknya, namun secara umum buku ini mampu memuaskan dahaga kurangnya buku-buku desain grafis berbahasa Indonesia. Sudah selayaknya bila program studi DKV dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mengundang Sumbo dan Yasraf A. Piliang untuk membedah buku karya Sumbo ini, serta membahas masalah semiotika dan perannya dalam dunia desain. Semoga setelah meraih gelar doktornya, dunia desain grafis akan disuguhi Sumbo Tinarbuko dengan buku-bukunya yang lain demi terbentuknya profesi dan bidang keilmuan desain grafis yang lebih kuat.
