Minggu, 23 November 2008
Tips Membaca Cepat
puluhan halaman dan untuk setiap kuliah bisa 2-3 paper seperti itu. Akhirnya untuk membaca
saja butuh waktu berjam-jam.
Karena tekanan yang seperti ini saya jadi lebih tertantang untuk mengembangkan teknik
membaca cepat. Untuk sekarang ini saya sedang belajar membaca cepat dengan dua hal saja,
yaitu:
- Menghilangkan subvokalisasi:
Subvokalisasi ini adalah suara yang biasa “ikut membaca” di dalam pikiran kita. Jadi waktu kita membaca, di dalam pikiran kita seperti ada suara yang menyuarakan bacaan itu. Ternyata ini sangat menghambat kecepatan membaca, karena otak kita sebenarnya mampu membaca dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada suara di dalam pikiran kita itu. Karenanya salah satu teknik membaca cepat adalah dengan menghilangkan suara ini. Tidak mudah memang
karena sudah jadi kebiasaan bertahun-tahun, tapi bagaimana pun kita perlu belajar
melakukannya.
- Jangan kembali ke belakang:
Nah, ini malah lebih sulit lagi. Kalau kita sudah melewati suatu bagian bacaan maka jangan sekali-kali mengulang lagi bagian itu. Baca terus dan maju terus. Ada yang terlewat ? Jangan hiraukan, maju terus ! Ada kata-kata yang hilang ? Jangan hiraukan juga, maju terus ! Pokoknya maju terus pantang mundur ! Intinya di sini adalah kita harus membaca untuk mendapatkan ide, bukan untuk mendapatkan kata per kata (lihat juga post Ide per Menit). Kembali ke belakang akan sangat mengurangi kecepatan membaca kita sementara dengan maju terus toh idenya akan kita dapatkan.
Teknik Membaca Cepat
Kita hidup dalam zaman di mana kita setiap hari dibanjiri buku baru tentang topik yang kita sukai atau yang berkaitan dengan bidang pekerjaan kita. Pembaca biasa takkan bisa membaca semua buku yang telah diterbitkan tentang topik yang berkaitan dengan bidang bisnis atau profesionalnya.
Sedangkan membaca itu sendiri bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menjengkelkan. Padahal kita semua tahu bahwa membaca sama halnya dengan kita menikmati pertunjukan konser atau film yang bagus. Membaca melibatkan partisipasi aktif kita. Seluruh emosi, hasrat dan minat kita juga harus terlibat dalam proses membaca, sehingga membaca menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Dengan keterbatasan waktu yang kita miliki, bagaimana kita dapat mengembangkan kemampuan membaca secara efektif sehingga dengan tenggang waktu yang sama, kita bisa
mengambil inti dari lebih banyak buku. Kecuali untuk buku fiksi atau sastra yang memang ingin
kita nikmati jalinan cerita, emosi, dan rangkaian kata-katanya, membaca buku nonfiksi
(textbook) adalah seperti membaca surat kabar. Yang kita perlukan adalah informasi dan gagasan pokok pengarang.
Hanya sedikit orang yang membaca koran dengan cara per bagian, halaman per halaman. Kita biasanya membaca beberapa halaman pertama dengan mendetail, lalu hanya sekilas membaca yang lain, mencari topik yang menarik. Sekarang kita akan belajar melakukan hal yang serupa dengan buku yang akan kita baca. Sebelum mulai membaca ada sejumlah alat bantu yang dapat membantu kita untuk dapat memahami keseluruhan isi sebuah buku, yaitu:
Sampul buku:
Biasanya pokok pikiran terpenting dari sebuah buku tercetak di sampulnya.
Informasi ini membantu penjualan buku dan memberikan perspektif penerbit tentang
isi buku. Sampul buku memberikan gambaran kepada kita tentang apa yang akan kita
dapatkan di bagian dalam.
Biografi penulis:
Informasi ini akan memberi tahu kita tentang latar belakang pendidikan,
pengalaman dan kegiatan penulis saat ini yang membuat ia bisa menulis buku
tersebut. Dengan memahami informasi tentang penulis akan membantu kita untuk
lebih mudah mengikuti alur pemikirannya dalam buku tersebut.
Bagian awal:
Bagian ini terdiri atas kata pengantar, prakata, atau bab pendahuluan (prolog).
Biasanya justru bagian-bagian ini yang perlu secara mendalam kita pelajari,
karena intisari seluruh gagasan penulis tentang tema buku tersebut terangkum
dalam bagian awal buku. Yang jelas bagian ini memaparkan tujuan penulisan
pernyataan misinya. Pada titik ini kita bisa memutuskan untuk membaca lebih
lanjut atau kita hanya akan menggunakannya untuk referensi.
Daftar Isi:
Sebenarnya bagian ini adalah kerangka buku. Penulis menggunakan masing-masing topik
bab sebagai gantungan untuk menjelaskan keseluruhan pemikirannya tentang topik tertentu. Ada berapa bagian? Berapa bab? Bacalah Daftar Isi dengan teliti
untuk melihat apakah topik-topiknya sesuai dengan apa yang kita cari.
Indeks:
Teliti indeks di bagian belakang buku. Lihat apakah ada kata-kata kunci yang
menarik bagi anda. Kita harus memeriksa semua hal tersebut sebelum membaca bukunya. Inilah yang disebut dengan proses scanning, yaitu kita melihat secara selintas keseluruhan isi dari buku yang akan kita baca. Begitu mulai membaca, kita bisa bebas melompati materi yang sudah kita ketahui atau materi yang tidak kita minati.
Pada bagian tertentu kita bisa mendalami karena ada topik atau informasi yang harus kita
cermati dan kita cerna lebih dalam. Proses ini disebut dengan proses skimming.
Berikut adalah hal-hal yang perlu untuk membaca dengan efektif:
1. Setelah melakukan proses scanning, kita dapat membuat peta pikiran (mind charting)
buku tersebut. Tidak usah terlalu detil, tetapi cukup informatif untuk menjelaskan isi
buku dalam satu halaman kertas. Kalau perlu kita lakukan rekonstruksi terhadap daftar
isi digabung dengan informasi lain dari biografi, kata pengantar, pendahuluan dan
sinopsis di sampul buku tersebut.
2. Siapkan stabilo atau alat tulis untuk menandai informasi atau apa saja yang ingin kita
ingat.
3. Pahami jalan pikiran penulis.
Semakin cepat kita mengetahui topik, tujuan, pokok masalah materi yang kita
baca, semakin baik pemahaman dan ingatan kita akan hal itu.
4. Hindari baca kata per kata dan kalimat per kalimat.
Coba tangkap sekelompok kata dengan mata anda setiap kali
menggerakkannya.Apalagi untuk buku berbahasa asing, kita tidak perlu
menterjemahkannnya kata demi kata, karena akan menghambat proses penyerapan
informasi dalam otak anda.Bandingkan anda membaca dengan bersuara dan membaca
dalam hati. Kecepatannya akan berbeda jauh. Biasanya saya berkonsentrasi pada
kalimat pertama dan kalimat terakhir dari sebuah paragraf, atau mata saya melihat
seluruh badan paragraph dan menangkap pesan intinya.
5. Buatlah ringkasan sambil membaca.
Jika tak ada ringkasan bab, buatlah sendiri setiap selesai membaca satu bab.
6. Bandingkan dengan tulisan lain bertopik sama yang pernah anda baca.
Ingat teknik kontemplasi. Cobalah mengembangkan pertanyaan-pertanyaan dan kaitan
satu sama lain seperti anda mencari sesuatu dengan senter.
7. Untuk mempermudah kita menggunakan buku tersebut sebagai referensi, kita bisa
mencatat isi buku tersebut dalam sebuah buku catatan atau kertas khsusu yang
dapat kita simpan dan kita lihat kembali setiap saat.
Demikianlah prinsip-prinsip dan langkah-langkah yang perlu kita ketahui untuk
meningkatkan efisiensi membaca. Namun sekali lagi, sama seperti ketrampilan yang lain,
membaca memerlukan jam terbang. Kita perlu berlatih, berlatih dan berlatih sehingga kecepatan
dan efisiensi membaca kita meningkat dari waktu ke waktu.
Selamat membaca dan meningkatkan aset pribadi anda yang paling penting, diri anda sendiri.
D 'Bijis

Judul Film : D’BIJIS
Sutradara : Rako Prijanto
Produksi : RAPI Films
Pemain : Tora Sudiro, Rianti Cartwrigth, Darius Sinathrya, Indra
Birowo, Gary Ishak, Syahrulli Lubis.
Durasi : 110 min
Genre : Drama Musical
bercorak drama musical sedang trend di Tanah Air Indonesia. Hal tersebut, terbukti dengan
munculnya film Mendadak Dangdut (2006) dan Dunia Mereka (2006), mungkin hal tersebut
yang akan disampaikan oleh sutradara muda yang berbakat yaitu Rako Prijanto. Ternyata, Rako
sangat tertarik untuk mengangkat kehidupan anak band yang lagi trend di Indonesia.
Contoh hasil karya Rako Prijanto yaitu The Bandits adalah nama sebuah band lokal yang
diangkat dalam isi film D’BIJIS. Awalnya, The Bandits memiliki potensi besar pada tahun 80 an
terpaksa harus bubar. Setelah mengalami kerusuhan panggung disuatu acara. Bonie (Darius
Sinathrya), sang vokalis yang dianggap sebagai penyebabnya. Setelah itu, Masing-masing
personil The Bandits berpencar dan menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Kehidupan pun bergulir sampai tahun 2007, Asti (Rianti Cartwright) adik Bonie tiba-tiba
muncul dan berniat untuk menyatukan The Bandits kembali lagi satu persatu. Mulai Asti
menemui mantan personil The Bandits, yaitu Damon (Tora Sudiro) sebagai gitaris yang tadinya
hidup sebagai pekerja di bar dangdut, Gendro (Indra Birowo) penabuh drum, seorang
pengangguran dan sudah menikah, Bule (Gery Ishak) bassis yang ternyata memilih jalan hidup
yang cukup unik yaitu sebagai waria, dan Soljah (Syahrully Lubis) keyboardist, yang juga
mengalam perubahan fisik yang cukup luar biasa yaitu menjadi gemuk.
Cita-cita Asti dalam mewujudkan impian kakaknya tidak mudah. Tugas Asti bukan
sekedar meyakinkan mereka untuk membentuk The Bandits kembali lagi, tapi juga meyakinkan
mereka untuk mau meninggalkan dunia kehidupan mereka setelah The Bandits bubar. Dan ketika Damon, Gendro, Bule, dan Soljah bisa bersatu, tidak berarti masalah sudah selesai. Namun ada lagi masalah yang lain, dengan mencari vokalis yang sekualitas dengan Bonie, ditambah masalah eksistensi kepemimpinan menjadi isu utama yang dianggap tidak gampang.
Setelah menyelesaikan masalah satu persatu, maka The Bandits terbentuk kembali. Dan
ternyata Asti menyimpan rasa terhadap Bule, dan Damon juga menyimpan rasa terhadap Asti
juga. Lalu Asti menjadi bagian dari perjalanan konflik cinta segi tiga, antara Damon, Bule, dan
Asti. Cinta persahabatan dan penghormatan terhadap musik dan teman-teman itu sendiri
membaur menjadi satu cerita kembalinya The Bandits.
Hikmah dari film ini adalah bahwa persahabatan yang dibentuk dengan tulus tidak akan
hancur atau goyah oleh masalah rintangan yang dihadapi.

Judul buku : Drunken Monster
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : DAR! Mizan
Tebal buku : 201 halaman
Buku ini berisikan tentang catatan harian/pengalaman penulisnya sendiri yaitu Pidi Baiq,yang bersifat fiksi. Di lihat dari judul buku dan cover depan yang mempunyai unsur grafis yang pas dengan judulnya, bisa membuat pembaca manjadi penasaran dan tertarik ingin membacanya.
Selain itu, pada cover buku ini tertuliskan “ini buku berbahaya” yang dikatakan oleh Prof. Dr.
Bambang Sugiharto.Buku ini adalah kumpulan cerita gila yang mudah kecanduan akut. Tidak disarankan bagi orang dewasa, terutama yang memelihara kebugaran. Kalimatnya yang pendek-pendek tanpa struktur, dalam artian merusak kesehatan bahasa Indonesia. Karena isi dari buku ini kalimatnya mengadu-ngadukan logika dengan seenaknya, dan juga membuat saraf tertawa menjadi-jadi.Setelah saya mencoba membaca buku ini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Bambang Sugiharto memang benar, beliau mengatakan “ini buku berbahaya”.
Tetapi dari semua tanggapan-tanggapan negatif yang telah dikemukakan oleh para
pembaca, Penulis berhasil membuat penasaran bagi para pembaca yang belum membacanya.
Selasa, 11 November 2008
the Beginning
First, the name. We owe the name "Photography" to Sir John Herschel , who first used the term in 1839, the year the photographic process became public. (*1) The word is derived from the Greek words for light and writing.
Before mentioning the stages that led to the development of photography, there is one amazing, quite uncanny prediction made by a man called de la Roche (1729- 1774) in a work called Giphantie. In this imaginary tale, it was possible to capture images from nature, on a canvas which had been coated with a sticky substance. This surface, so the tale goes, would not only provide a mirror image on the sticky canvas, but would remain on it. After it had been dried in the dark the image would remain permanent. The author would not have known how prophetic this tale would be, only a few decades after his death.
There are two distinct scientific processes that combine to make photography possible. It is somewhat surprising that photography was not invented earlier than the 1830s, because these processes had been known for quite some time. It was not until the two distinct scientific processes had been put together that photography came into being.
The first of these processes was optical. The Camera Obscura (dark room) had been in existence for at least four hundred years. There is a drawing, dated 1519, of a Camera Obscura by Leonardo da Vinci; about this same period its use as an aid to drawing was being advocated.
The second process was chemical. For hundreds of years before photography was invented, people had been aware, for example, that some colours are bleached in the sun, but they had made little distinction between heat, air and light.
